Rabu, 04 Januari 2012

Pilar Utama Penatalaksanaan DM

Mengelola penyakit diabetes mellitus sebenarnya mudah asal penderita bisa mendisiplinkan diri dan melakukan olahraga secara teratur, menuruti saran dokter, dan tidak mudah patah semangat. (naturindonesia.com)
1.    Penyuluhan (Edukasi)
Edukasi merupakan bagian integral asuhan perawatan diabetes. Edukasi diabetes adalah pendidikan dan latihan mengenai pengetahuan dan ketrampilan dalam pengelolaan. (Syahbudin(2002), dalam Suyono, hal 5)

a.    Tujuan Penyuluhan
1)   Meningkatkan pengetahuan
2)   Mengubah sikap
3)   Mengubah perilaku serta meningkatkan kepatuhan
4)   Meningkatkan kualitas hidup
(Basuki(2009),dalam Soegondo, hal 138)
b.   Sasaran Penyuluhan
Sasaran pengelolaan diabetes diberikan kepada setiap pasien diabetes. Di samping kepada pasien diabetes, edukasi juga diberikan kepada anggota keluarganya, kelompok masyarakat beresiko tinggi dan pihak-pihak perencana kebijakan kesehatan. (Syahbudin(2002), dalam Suyono, hal 5)
c.    Metode Penyuluhan
Penyuluhan diabetes bagi penyandang diabetes dan keluarganya dapat dilakukan dengan tatap muka dan didukung dengan penyediaan bahan-bahan edukasi. Tatap muka dapat dilaksanakan secara perseorangan atau secara berkelompok. Penyuluhan bagi masyarakat atau komunitas yang lebih luas dapat dilakukan melalui media massa, sedangkan untuk komunitas yang lebih kecil misalnya di lingkup rumah sakit, puskesmas, atau dokter praktek swasta, dapat dibuat brosur atau liflet yang disediakan untuk keluarga penyandang diabetes, masyarakat pengunjung fasilitas kesehatan dan masyarakat pada umumnya. (Basuki(2009),dalam Soegondo, hal 140)
d.   Konsep dasar melakukan penyuluhan
Selain harus menguasai materi diabetes, seorang edukator juga dituntut untuk menguasai ilmu komunikasi khususnya komunikasi interpersonal yamg banyak dipakai dalam melakukan penyuluhan. Dasar untuk melakukan penyuluhan kesehatan:
1)   Komunikasi
Komunikasi merupkan inti dari pikiran serta hubungan antara manusia. Didalam komunikasi interpersonal dikenal berbagai alat komunikasi, yakni :
a)    Bahasa
b)   Pengamatan dan persepsi
c)    Tingkah laku non-verbal
d)   Mendengar aktif
2)   Motivasi
Motivasi berfungsi untuk mengarahkan, mendorong dan menggerakkan seseorang atau kelompok untuk melakukan sesuatu. Hal tersebut ditempuh melalui cara :
a)    Mengusahakan terciptanya suatu keadaan yang dapat menumbuhkan dorongan batin seseorang agar tergerak hatinya untuk bertingkah laku.
b)   Memberikan pengertian kepada individu atau kelompok agar mereka terdorong untuk melakukan sesuatu setelah ia mengerti.
(Basuki(2009),dalam Soegondo, hal 140)

e.    Tahap Edukasi
Penyuluhan merupakan suatu proses keperawatan yang memerlukan waktu tidak sebentar, waktu yang dibutuhkan cukup lama. Sehingga harus dilakukan secara bertahap dan memerlukan berberapa pertemuan, sebagai berikut:
1)   Pertemuan 1
Memberikan pendidikan kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan tentang:
a)    Pengertian DM
b)   Etiologi/ Penyebab DM
c)    Komplikasi DM
d)   Diet DM
e)    Pencegahan DM
f)    Penatalaksanaan DM
2)   Pertemuan 2
Mengubah sikap, antara lain:
a)    Sikap terhadap diet
b)   Jenis pengobatan
c)    Olahraga
3)   Pertemuan 3
Mengubah perilaku serta meningkatkan kepatuhan. Untuk terwujudnya perilaku agar menjadi suatu perbuatan nyata, diperlukan faktor pendukung atau kondisi yang memungkinkan. Sebagai contoh: Seorang penyandang DM yang telah mempunyai pengetahuan dan perilaku yang baik terhadap keteraturan olahraga, mungkin tidak dapat menjalankan perilaku tersebut karena keterbatasan waktu.
4)   Pertemuan 4
Meningkatkan kualitas hidup. Didalam pertemuan ini dapat di bahas berbagai aspek kehidupan penyandang DM yang berhubungan dengan DM, baik yang diungkapkan sendiri oleh penyandang DM atau dimulai dari edukator. (Basuki(2009),dalam Soegondo)
2.    Perencanaan Makan (diet)
Terapi gizi merupakan komponen utama keberhasilan penatalaksanaan diabetes. Perencanaan makan hendaknya dengan kandungan zat gizi yang cukup dan disertai pengurangan total lemak terutama lemak jenuh. Pengetahuan porsi makanan sedemikian rupa sehingga asupan zat gizi tersebar sepanjang hari. (usu.ac.id)
Kunci keberhasilan terapi gizi medis adalah keterlibatan tim dalam 4 hal :
a.       assesment atau pengkajian parameter metabolik individu dan gaya hidup
b.      Mendorong pasien berparisipasi pada penentuan tujuan tujuan yang dicapai
c.       Memilih intervensi gizi yang memadai
d.      Mengevaluasi efektifnya perencanaan makan orang dengan diabetes.
(Sukardji(2009), dalam Soegondo, hal 47)
a.      Tujuan diet
1)  Membantu pasien memperbaiki kebiasaan makan dan olahraga untuk mendapatkan kontrol metabolik yang lebih baik.
2)  Mempertahankan kadar glukosa darah supaya mendekati normal dengan menyeimbangkan asupan makanan dengan insulin dengan obat penurun glukosa oral dan aktivitas fisik.
3)      Mencapai dan mempertahankan kadar lipida serum normal.
4)      Memberi cukup energi untuk mempertahankan atau mencapai berat badan normal.
5)  Menghindari atau menangani komplikasi akut pasien yang menggunakan insulin seperti hipoglikemia, komplikasi jangka pendek, dan jangka lama serta masalah yang berhubungan dengan latihan jasmani.
6)      Meningkatkan derajat kesehatan secara keseluruhan malalui gizi yang optimal.
(Almatsier, 2006)

b.      Prinsip Perencanaan Makan bagi Penyandang DM
1)   Kebutuhan Kalori
Kebutuhan kalori sesuai untuk mencapai dan mempertahankan Berat Badan ideal. Komposisi energi:
a)   Karbohidrat: 45-65%
b)   Protein: 10-20%
c)   Lemak: 20-25%
Makanan dibagi 3 porsi makanan utama: (pagi 20%), siang (30%), sore (25%) dan 2 kali makanan selingan (10-15%).

Tabel Kebutuhan Kalori Penyandang Diabetes
Kalori/kg BB ideal
Status gizi
Kerja santai
Sedang
Berat
Berat
25
30
35
Normal
30
35
40
Kurus
35
40
40-50

Perhitungan BB idaman dengan rumus Brocca yang dimodifikasi adalah sebagai berikut:
BB idaman = 90% x (TB dalam cm - 100) x 1 kg
Bagi pria dengan tinggi badan dibawah 160 cm dan wanita dibawah 150 cm, rumus modifikasi menjadi :
BB ideal = (TB dalam cm - 100) x 1 kg

Sedangkan menurut Indeks Massa Tubuh (IMT) yaitu
Ket : BB= berat badan (Kg)
TB= tinggi badan (m2)
adalah sebagai berikut :
            Berat normal : IMT            = 18,5 – 22,9 kg/m2

Faktor-faktor yang menentukan kebutuhan kalori:
a)   Jenis Kelamin
Kebutuhan kalori pada wanita lebih kecil dari pada pria, untuk ini dapat dipakai angka 25 kal/kg BB untuk wanita dan angka 30 kal/kg BB untuk pria.
b)   Umur
(1)   Pada bayi dan anak-anak kebutuhan kalori adalah jauh lebih tinggi dari pada orang dewasa, dalam tahunn pertama bisa mencapai 112 kg/kg BB.
(2)   Umur 1 tahun membutuhkan lebih kurang 1000 kalori dan selanjutnya pada anak-anak lebih dari pada 1 tahun mendapat tambahan 100 kalori untuk tiap tahunnya.
(3)   Penurunan kebutuhan kalori diatas 40 tahun harus dikurangi 5% untuk tiap dekade antara 40 dan 59 tahun, sedangkan antara 60 dan 69 tahun dikurangi 10%, diatas 70 tahun dikurangi 20%.
c)   Aktivitas Fisik atau Pekerjaan
Jenis aktivitas fisik yang berbeda membutuhkan kalori yang berbeda pula. Jenis aktivitas dikelompokkan sebagai berikut :
(1)   Keadaan istirahat: kebutuhan kalori basal ditambah 10%.
(2)   Ringan: pegawai kantor, pegawai toko, guru, ahli hukum, ibu rumah tangga, dan lain0lain kebutuhan harus ditambah 20% dari kebutuhan basal.
(3)   Sedang: pegawai industri ringan, mahasiswa, militer yang sedang tidak perang, kebutuhan dinaikkan menjadi 30% dari basal.
(4)   Berat : petani, buruh, militer dalam keadaan latihan, penari, atlet, kebutuhan ditambah 50% dari basal.
(5)   Sangat berat: tukang becak, tukang gali, pandai besi, kebutuhan harus ditambah 50% dari basal.
d)  Kehamilan/Laktasi
Pada permulaan kehamilan diperlukan tambahan 150 kalori/hari dan pada trimester II dan III 350 kalori/hari. Pada waktu laktasi diperlukan tambahan sebanyak 550 kalori/hari.
e)   Adanya Komplikasi
Infeksi, trauma atau operasi yang menyebabkan kenaikan suhu memerlukan tambahan kalori sebesar 13% untuk tiap kenaikan  1 derajat celcius.
f)    Berat badan
Bila kegemukan/terlalu kurus, dikurangi/ditambah sekitar 20-30% bergantung kepada tingkat kegemukan/kekurusannya. (Sukardji(2009), dalam Soegondo, hal 54)
2)   Kebutuhan zat gizi
a)   Protein
Menurut konsensus pengelolaan diabetes di Indonesia tahun 2006, kebutuhan protein untuk penyandang diabetes 10-20% energi. Perlu penurunan asupan protein menjadi 0,8 g/kgBB perhari atau 10% dari kebutuhan energi dengan timbulnya nefropati pada orang dewasa dan 65% hendaknya bernilai biologik tinggi.
b)   Total lemak
Asupan lemak dianjurkan <7% energi dari lemak jenuh dan tidak lebih dari 10% energi dari lemak tidak jenuh ganda, sedangkan selebihnya dari lemak tidak jenuh tunggal. Anjuran asupan lemak di Indonesia adalah 20-25% energi.
c)   Lemak dan kolesterol
Tujuan utama pengurangan konsumsi lemak jenuh dan kolesterol adalah untuk menurunkan risiko penyakit kardiovaskuler. Oleh karena itu <7% asupan energi sehari seharusnya dari lemak jenuh dan asupan kolesterol makanan hendaknya dibatasi tidak lebih dari 300 mg perhari.
d)  Karbohidrat dan pemanis
Anjuran konsumsi karbohidrat untuk orang dengan diabetes di Indonesia adalah 45-65%.
(1)   Sukrosa
Bukti ilmiah menunjukkan bahwa penggunaan sukrosa sebagai bagian dari perencanaan makan tidak memperburuk kontrol glukosa darah pada individu diabetes tipe 1 dan 2.
(2)   Pemanis
Fruktosa menaikkan glukosa plasma lebih kecil daripada sukrosa dan kebanyakan karbohidrat jenis tepung-tepungan.
e)   Serat
Rekomendasi asupan serat untuk orang dengan diabetes sama dengan untuk orang yang tidak diabetes yaitu dianjurkan mengkonsumsi 20-35 g serat dari berbagai sumber bahan makanan.
f)    Natrium
Anjuran asupan untuk orang dengan diabetes sama dengan penduduk biasa yaitu tidak lebih dari 3000 mg, sedangkan bagi yang menderita hipertensi ringan sampai sedang, dianjurkan 2400 mg natrium perhari.
g)   Alkohol
Dalam keadaan normal, kadar glukosa darah tidak terpengaruh oleh penggunaan alkohol dalam jumlah sedang apabila diabetes terkendali dengan baik.
h)   Mikronutrien : vitamin dan mineral
Apabila asupan gizi cukup, biasanya tidak perlu menambah suplementasi vitamin dan mineral. (Sukardji(2009), dalam Soegondo, hal 50)
Standar Diet Diabetes Melitus
(Dalam Satuan Penukar Versi 1997)
ENERGI(kalori)
1100
1300
1500
1700
1900
2100
2300
2500
Pagi :
Nasi
Ikan
Nabati
Sayur A
Minyak

½
1
-
S
1

1
1
-
S
1

1
1
½
S
1

1
1
½
S
1

1 ½
1
½
S
2

1 ½
1
1
S
2

1 ½
1
1
S
2

2
1
1
S
2
10.00 :
Buah
Susu

1
-

1
-

1
-

1
-

1
-

1
-

1
1

1
1
Siang :
Nasi
Daging
Nabati
Sayur A
Sayur B
Buah
Minyak

1
1
1
S
1
1
1

1
1
1
S
1
1
2

2
1
1
S
1
1
2

2
1
1
S
1
1
2

2
1
1
S
1
1
2

2 ½
1
1
S
1
1
3

3
1
1
S
1
1
3

3
1
2
S
1
1
3
16.00 :
Buah

1

1

1

1

1

1

1

1
Malam :
Nasi
Ikan
Nabati
Sayur A
Sayur B
Buah
Minyak

1
1
1
S
1
1
1

1
1
1
S
1
1
1

1
1
1
S
1
1
1

2
1
1
S
1
1
1

2
1
1
S
1
1
2

2 ½
1
1
S
1
1
2

2 ½
1
1
S
1
1
2

2 ½
1
1
S
1
1
2
Keterangan : s = sekehendak

Contoh Menu Berdasarkan Daftar Bahan Makanan Penukar
KEBUTUHAN BAHAN MAKANAN DALAM PENUKAR DIET 1700 KALORI

SEHARI
(P)
PAGI
(P)
SIANG
(P)
SORE
(P)
SNACK
(P)
-       Nasi/penukar
-       Ikan/penukar           
-       Daging/penukar
-       Tempe/penukar
-       Sayuran A
-       Sayuran B
-       Buah/penukar
-       Minyak/penukar
5
2
1
2 ½
S
2
4
4
1
-
1
-
S
-
-
1
2
1
-
1
S
1
1
2
2
1
-
1
S
1
1
1
-
-
-
-
-
-
2
-

CONTOH MENU DM 1700 KALORI
Waktu
B. makanan
Penukar
KEBUTUHAN
BAHAN

CONTOH MENU
PAGI
Roti
Margarin
Telur
Iris
½ sdm
1 btr
(1P)
(1P)
(1P)
Roti panggang
Margarin
Telur rebus
Teh panas
10.00
Pisang
1 buah
(1P)
pisang
SIANG
Nasi
Udang
Tahu

Minyak
Sayuran
Kelapa
Jeruk
1 ½ gelas
5 ekor
1 potong

1 sdm
1 gelas
5 sdm
1 buah
(2P)
(1P)
(1P)

(2P)
(1P)
(1P)
(1P)
Nasi
Oseng-oseng
Udang, tahu, cabe ijo
Urap syuran


Jeruk
16.00
Duku
16 buah
(1P)
duku
MALAM
Nasi
Ayam
Kacang merah
Sayuran
Minyak
Apel malang
1 ½ gelas
1 potong
2 sdm
1 gelas
½ sdm
1 buah
(2P)
(1P)
(1P)
(1P)
(1P)
(1P)
Nasi
Sop+k.merah

Tumis sayuran

apel
(Sukardji(2009), dalam Soegondo, hal 58)

3)   Makanan yang dianjurkan dan dihindari
a)   Bahan makanan yang dianjurkan
(1)      Sumber karbohidrat kompleks : nasi, roti, mie, kentang, singkong, ubi dan sagu.
(2)      Sumber protein rendah lemak : ikan, ayam tanpa kulit, susu skim, tempe, tahu, dan kacang-kacangan
(3)      Sumber lemak dalam jumlah terbatas yaitu makanan yang mudah dicerna. Makanan terutama diolah dengan cara dipanggang , dikukus, disetup, direbus, dibakar.
(4)      Buah, contoh: pepaya, apel, pisang (pisang ambon sebaiknya dibatasi), kedondong, salak, semangka, apel, pir, jeruk, belimbing, buah naga.
(5)      Sayuran dibagi 2 golongan : sayur golongan A dan golongan B
(a)    Sayur golongan A bebas dikonsumsi, sangat sedikit mengandung energy, protein, karbohidrat. Jenis sayuran gol A: oyong, lobak, selada, jamur segar, mentimun, tomat, sawi, tauge, kangkung, kembang kol, kol, lobak, labu air
(b)   Sayur golongan B boleh dikonsumsi, tapi hanya 100 gram/hari. Jenis sayuran gol B diantaranya: buncis, daun melinjo, daun pakis, daun singkong, daun pepaya, labu siam, nangka muda, jagung muda, genjer, kacang kapri, jantung pisang, daun beluntas, bayam, kacang panjang, wortel.
(Sukardji(2009), dalam Soegondo, hal 62) dan (Almatsier, 2006)
b)   Bahan makanan yang tidak diaanjurkan (dibatasi/dihindari)
(1)      Mengandung banyak gula sederhana seperti :
(a)     Gula pasir, gula jawa
(b)     Sirup, jam, jeli, buahn-buahan yang diawetkan dengan gula , susu kental manis, minuman botol ringan dan es cream
(c)      Kue-kue manis , dodol, cake, dan tarcis
(2)      Mengandung banyak lemak : cake, makanan siap saji, goreng-gorengan.
(3)      Mangandung banyak natrium : ikan asin, telur asin, makanan yang diawetkan.(Almatsier, 2006)
3.    Latihan jasmani
a.    Manfaat olahraga bagi penyandang diabetes melitus:
1)      Menurunkan kadar gula darah
2)      Mencegah kegemukan
3)      Menurunkan lemak darah (kolesterol)
4)      Mencegah tekanan darah tinggi
5)      Mengurangi resiko penyakit jantung koroner
6)      Meningkatkan kualitas hidup dan kemampuan kerja. (Nabyl, 2009)
b.      Prinsip
Prinsip olah raga pada DM sama saja dengan prinsip olahraga secara umum, yaitu memenuhi hal berikut ini (F.I.T.T) :
Frekuensi : jumlah olah raga perminggu sebaiknya dilakukan secara teratur
Intensitas      : ringan dan sedang yaitu 60 % - 70% MHR
Time (durasi) : 30 – 60 menit
Tipe (jenis) : olahraga endurance (aerobic) unuk meningkatkan kemampuan   kardiorespirasi seperti jalan, jogging, berenang, dan bersepeda.
(Ilyas(2009), dalam Soegondo, hal 76)
c.       Jenis
Jenis olah raga yang baik untuk pengidap DM adalah olah raga yang memperbaiki kesegaran jasmani. Oleh karena itu harus dipilih jenis olah raga yang memperbaiki semua komponen kesegaran jasmani yaitu yang memenuhi ketahanan, kekuatan, kelenturan tubuh, keseimbangan, ketangkasan, tenaga dan kecepatan.
Contoh jenis-jenis olah raga yang di anjurkan utuk penderita DM, adalah :
1)   Jogging
2)   Senam aerobic
3)   Bersepeda
4)   Berenang
5)   Jalan santai
6)   Senam kesehatan jasmani (SKJ)

Jenis olah raga yang tersebut di atas adalah olah raga yang bersifat :
1)      Continuous
Latihan yang diberikan harus berkesinambungan, dilakukan terus menerus tanpa berhenti. Contoh : bila dipilih jogging 30 menit, maka selama 30 menit pengidap melakukan jogging tanpa istirahat.
2)      Rhythmical
Latihan olah raga harus dipilih yang berirama, yaitu otot-otot berkontraksi dan relaksasi secara teratur. Contoh : latihan ritmis adalah jalan kaki, jogging, berenang, bersepeda, mendayung.
3)      Intensity
Latihan olah raga yang dilakukan selang seling antara gerak cepat dan lambat. Misalnya, jalan cepat diselingi jalan lambat, jogging diselingi jalan. Dengan kegiatan yang bergantian pengidap dapat bernafas dengan lega tanpa menghentikan latihan sama sekali.
4)      Progressive
Latihan yang dilakukan harus berangsur-angsur dari sedikit ke latihan yang lebih berat, secara bertahap. Jadi beban latihan olah raga dinaikan sedikit demi sedikit sesuai dengan pencapaian latihan sebelumnya.
5)      Endurance
Latihan daya tahan tubuh memperbaiki system kardiovaskuler. Oleh karena itu sebelum ikut program latihan olah raga, terhadap pengidap harus dilakukan pemeriksaan kardiovaskuler.
(Ilyas(2009), dalam Soegondo)
d.      Tahap-tahap yang dilakukan setiap latihan
1)      pemanasan (warming up)
            Mengurangi kemungkinan terjadinya akibat berolahraga. Lama pemanasan cukup 5 – 10 menit.

2)      latihan inti (conditioning)
            Pada tahap ini denyut nadi di usahakan mencapai target tekanan darah normal agar latihan benar-benar bermanfaat. Bila target normal tidak tercapai maka latihan tidak bermanfaat, bila melebihi normal akan menimbulkan resiko yang tidak diinginkan.

3)      Pendinginan (cooling-down)
Pendinginan dilakukan untuk mencegah terjadinya penimbunan asam laktat yang dapat menimbulkan rasa nyeri pada otot, pusing, sesudah berolah raga. Lama pendinginan kurang lebih 5-10 menit hingga denyut nadi mendekati denyut nadi istirahat.

4)      Peregangan (stretching)
Untuk melemaskan dan melenturkan otot-otot yang masih teregang. 
(Ilyas(2009), dalam Soegondo, hal 76)
e.       Risiko dari olahraga bagi penyandang diabetes yang harus diperhatikan
1)      Memperburuk kadar gula darah. Maka hindarilah olahraga berat, latihan beban, dan olahraga kontak (tinju,yudo). Usahakan asupan cairan yang cukup.
2)      Hipoglikemia akibat olahraga. Monitor kadar gula darah dan siapkan makanan kecil. Maka hindarilah pemberian insulin dibagian tubuh yang aktif (berikan insulin di abdomen atau perut), juga kurangi dosis insulin sebelum berolahraga.
3)      Gangguan pada kaki. Maka pakailah sepatu yang sesuai dan usahakan agar kaki selalu bersih serta kering.
4)      Komplikasi jantung. Maka periksalah kesehatan sebelum melakukan program olahraga. Lakukanlah program olahraga individu secara berkelompok.
5)      Cedera otot dan tulang. Selalu lakukan pemanasan dan pendinginan, intensitas latihan ditingkatkan bertahap, serta hindari latihan yang berlebihan. (Nabyl, 2009)
f.       Beberapa hal yang penting untuk diperhatikan saat merencanakan program latihan atau olahraga bagi penderita diabetes
1)      Ketahui kontraindikasi dan keterbatasan diabetisi
2)      Harus realistik sebab diabetisi akan melakukan olahraga secara teratur apabila diabetisi merasakan manfaat dan menyenanginya
3)      Peningkatan intensitas dan durasi dilakukan secara bertahap
4)      Ingatkan resiko terjadinya hipoglikemia
5)      Ingatkan bahwa olahraga atau beraktifitas fisik apa saja lebih baik daripada tidak melakukan sam sekali. (Ilyas(2009), dalam Soegondo, hal 81)

g.      Pengawasan selama latihan
1)      Monitor denyut nadi (diperiksa setiap selesai tahap pemanasan, latihan inti dan pendinginan.
2)      Monitor keluhan seperti : pusing, lemas, sesak, dll (periksa kembali kadar gula darah).
(Nabyl, 2009)
4.    Pengobatan Medis
Apabila terapi tanpa obat (pengaturan diet dan olahraga) belum berhasil mengendalikan kadar glukosa darah penderita, maka perlu dilakukan langkah berikutnya berupa terapi obat, baik dalam bentuk terapi obat hipoglikemik oral ,terapi insulin atau kombinasi keduanya.(Saraswati, 2009)
Tujuan utama dari pengobatan diabetes adalah untuk mempertahankan kadar gula darah dalam kisaran yang normal. Kadar gula darah yang benar-benar normal sulit untuk dipertahankan, tetapi semakin mendekati kisaran yang normal, maka kemungkinan terjadinya komplikasi sementara maupun jangka panjang semakin berkurang. (Saraswati, 2009)
a.    Terapi obat hipoglikemik oral (OHO)
Dibagi menjadi 4 golongan :
1)   Golongan Obat yang bekerja memicu sekresi insulin
a)    Sulfonilurea
Efek utama golongan ini meningkatkan sekresi insulin oleh sel beta pankreas. Sulfonilurea sebaiknya tidak diberikan pada penyakit hati, ginjal dan tiroid. Termasuk golongan ini :
(1)   Khlorpropamid
(2)   Glibenklamid
(3)   Gliklasid
(4)   Glikuidon
(5)   Glipisid
(6)   Glimepirid
b)   Glinid
Merupakan obat generasi baru ,cara kerjanya sama dengan sulfonilurea dengan meningkatkan sekresi insulin fase pertama.
Golongan obat ini terdiri dari 2 macam obat, yaitu:
(1)     Repaglinid
(2)     Nateglinid. (Soegondo, 2009, hal 123)
2)   Penambah sensitivitas terhadap insulin
a)      Biguanid
Biguanid tidak merangsang sekresi insulin dan terutama bekerja di hati dengan mengurangi hepatic glucose output dan  menurunkan kadar glukosa dalam darah sampai normal (euglikemia) serta tidak pernah menyebabkan hipoglikemia. Contoh golongan ini adalah metformin.
b)      Thiazolindion/glitazon
Thiazolindion berikatan pada peroxisome proliferator activated receptor gamma (PPARĪ³) suatu reseptor inti di sel otot dan sel lemak. Obat golongan ini memperbaiki sensitifitas terhadap insulin dengan memperbaiki transpor glukosa kedalam sel. Contoh golongan ini : pioglitazon (Actoz) dan Rosiglitazon (Avandia).
(Soegondo, 2009, hal 124)
3)   Penambah alfa glukosidase / acarbose
Obat ini bekerja secara kompetitif menghambat kerja enzim alfa glukosidase di dalam saluran cerna sehingga dengan demikian dapat menurunkan penyerapan glukosa dan menurunkan glikemia postprandial. Obat ini bekerja di lumen usus dan tidak menyebabkan hipoglikemia dan juga tidak berpengaruh pada kadar insulin.
(Soegondo, 2009, hal 126)
4)   Golongan inkretin
a)    Inkretin mimetik
(1)   Jenis : suntikan, belum masuk pasaran indonesia.
(2)   Mekanisme : menurunkan glukosa darah dengan cara merangsang sekresi insulin dan menghambat sekresi glucagon.
b)   Penghambat DPP IV
(1)   Mekanisme : Obat golongan baru ini  mempunyai cara kerja menghambat suatu enzim yang mendegradasi hormon inkretin endogen yang berasal dari usus, sehingga dapat meningkatkan sekresi insulin yang dirangsang glukosa, mengurangi sekresi glukagon dan memperlambat pengosongan lambung.
(2)   Dosis : tunggal tanpa perlu penyesuaian dosis .dapat diberikan monoterapi tetapi juga dapat dikombinasi dengan metformin, glitazon  atau sulfonylurea.
       (Soegondo, 2009, hal 127)
Indikasi pemakaian Obat Hipoglikemi Oral :
1)   Diabetes sesudah umur 40 tahun
2)   Diabetes kurang dari 5 tahun
3)   Memerlukan insulin dengan dosis kurang dari 40 unit sehari
4)   DM tipe 2, berat normal atau lebih.
(Soegondo, 2009, hal 129)
b.   Terapi Insulin
Adapun pemilihan insulin yang akan digunakan tergantung pada :
1.    Keinginan penderita untuk mengontrol diabetesnya.
2.    Keinginan penderita untuk memantau kadar gula darah dan menyesuaikan dosisnya.
3.    Aktivitas harian penuh penderita.
4.    Kecekatan penderita dalam mempelajari dan mahami penyakitnya.
5.    Kestabilan kadar gula darah sepanjang hari dan dari hari ke hari.
(Saraswati, 2009)
Empat tipe Insulin yang diproduksi dan dikategorikan berdasarkan puncak dan jangka waktu efeknya :
1)   Insulin Kerja Singkat (short acting) ; insulin regular merupakan satu-satunya insulin jernih ataularutan insulin, sementara lainnya adalah suspense. Insulin regular adalah satu-satunya prodak insulin yang cocok untuk pemberian intra vena. Contoh : Actrapid, Humulin R.
2)   Insulin kerja cepat (rapid acting), cepat diabsorbsi, adalah insulin analog seperti: Novorapid, Humalog, Apidra.
3)   Insuli kerja sedang yaitu NPH termasuk Monotard, Insulatard, Humulin.
4)   Insulin kerja panjang, mempunyai kadar zing yang tinggi untuk memperpanjang waktu kerjanya. Contoh:Ultra lente
(Soegondo, 2009, hal 114)
5.    Pemantauan (monitoring)
Monitoring adalah salah satu tindakan keperawatan yang digunakan untuk menilai manfaat pengobatan dan sebagai pegangan penyasuaian diet, latihan jasmani, dan obat-obatan untuk mencapai kadar glukosa darah senormal mungkin, terhindar dari keadaan hiperglikemia ataupun hipoglikemia.

Hal-hal yang perlu dipantau (monitoring) pada penyandang DM
a.         Kendali Glikemik
Berbagai studi yang telah ada menanyakan bahwa penyandang diabetes tipe 1 dan tipe 2 yang menjaga kadar glukosa plasma rata-rata tetap rendah menunjukkan insidens komplikasi mikrovaskuler berupa timbulnya retinopati diabetik, nefropati, dan neuropati yang lebih rendah. Oleh karena itu, penyandang diabetes direkomendasikan untuk mencapai dan menjaga gula darah serendah mungkin mendekati normal. Dalam pengelolaan DM kita mempunyai kriteria pengendalian yang ingin kita capai (tabel 1).

Baik
Sedang
Buruk
Glukosa darah puasa (mg/dl)
80 - 109
110– 125
>126
Glukosa darah 2 jam (mg/dl)
110- 144
145 – 179
>180
A1C ( %)
<6,5
6,5-8
>8
Kolesterol total (mg/dl)
<200
200-239
>240
Kolesterol LDL (mg/dl)
<100
100-129
>130
Kolesterol HDL (mg/dl)
>45


Trigliserida (mg/dl)
<150
150-199
>200
IMT (kg/m2)
18,5-22,9
23-25
>25
Tekanan darah (mmHg)
<130/80
130-140/80-90
>140/90

Untuk pasien berumur >60tahun, sasaran kadar glukosa darah lebih tinggi dari pada biasa (puasa <150mg/dL dan sesudah makan <200mg/dL), demikian pula kadar lipid, tekanan darah, dllmengacu padabatasankriteria pengendalian sedang. Hal ini dilakukan mengingat sifat-sifat khusus pasienusia lanjut dan juga untuk mencegah kemungkinan timbulnya efek samping dan interaksi obat.
(Soewondo(2009), Soegondo, hal 152)
b.        Pemeriksaan Kadar Gula Darah
Pemeriksaan kadar glukosa darah dilakukan dilaboratorium dengan metode oksidasi glukosa atau o-toluidin dan biasanya sering kali pemeriksaan darah dilakukan dengan uji strippada saat konsultasi dengan metode enzimatik (oksidasi glukosa atau heksokinasi). Faktor yang mempengaruhi hasil pengukuran glukometer adalah :
1)   Penggunaan yang tidak tepat
2)   Waktu
3)   Pemindahan darah yang berlebih
4)   Perubahan hematokrit
5)   Ketinggian
6)   Suhu lingkungan
7)   Hipotensi
8)   Hipoksia
9)   Kadar trigliserida yang tinggi

Adapun beberapa ukuran normal kadar gula darah pendapat dari beberapa organisasi Diabetes dunia, yaitu :
Organisasi
GDP (mg/dL)
GDS (mg/dL)
ADA
70-130
<180
AACE
<110
<140
IDF
<110
<145
ESC / EASD


Diabetes tipe 1
<108
135-160
Diabetes tipe 2
<108
<135
 (Soewondo(2009), Soegondo, hal 153)
c.         Pemeriksaan Kadar Glukosa Urin
Hasil pemeriksaan urine normal
1)        Glucose  : Negatif
2)        Billirubin  :  Negatif
3)        Keton  :  < 5 mg/dl
4)        Berat Jenis  :  1,001-1,035
5)        pH  :  4,6 – 8,0
6)        Protein  : < 30 mg/dl
7)        Urobilinogen :  < 1,0 EU/dl
8)        Nitrit : Negatif
9)        Blood  : Negatif
10)    Leukosit : Negatif

d.        Pemeriksaan HIperglikemia Kronik
Pada penyandang DM, glikosilasi hemoglobin meningkat secara proporsional dengan kadar rata-rata glukosa darah selama 8-10 minggu terakhir. Bila kadar glukosa darah normal (70-140 mg/dL) selama 8-10 minggu terakhir, maka hasil tes A1C menunjukan nilai normal. Pemeriksaan A1C dipengaruhi oleh anemia berat, kehamilan, gagal ginjal, dan hemoglobinopati. Hasil pemeriksaan A1C sangat akurat untuk menilai status glikemik jangka panjang. Kadar A1C dapat mencerminkan glukosa darah rata-rata, seperti :

Kadar Glukosa rata-rata
A1C (%)
Mg/ dL
5
97
6
126
7
164
8
183
9
212
10
240
11
269
12
298

Pemeriksaan A1C dilakukan 2 kali dalam setahun yang telah mencapai target tetap. Pada pasien yang terapinya belum berubah atau yang belum mencapai target kendali glukosa, pemeriksaan A1C sebaiknya dilakukan 4 kali setahun.
(Soewondo(2009), Soegondo, hal 155)
e.         Pemeriksaan Keton Urin
Keton urin dapat diperiksa menggunakan reaksi kolorimetrik antara benda keton dan nitroprusid yang menghasilkan warna ungu. Metode tersedia dalam bentuk strip dan tablet yang berfungsi mendeteksi keton di urin maupun di5 darah.
Hasil keton urin positif dapat dijumpai pada lebih dari 30% specimen urin porsi pertama dari wanita hamil (dengan atau tanpa DM), kelaparan, puasa, atau hipoglikemia. Positif palsu dapat ditemukan pada keadaan urin pekat dan penggunaan obat yang mengandung sulfhidril (angiotensin-converting enzyme inhibitors). (Soewondo(2009), Soegondo, hal 157)

f.          Pemantauan Kadar Glukosa Sendiri
Pada Pemantauan Kadar Glukosa Sendiri (PKGS) dilakukan oleh penyandang DM sendiri saat dirumah untuk mencegah hipoglikemia dan menyesuaikan pengobatan, diet dan aktifitas fisik untuk mencapai target glikemik yang diinginkan. PKGS perlu dilakukan evaluasi secara berkala mengenai cara pemeriksaan yang dilakukan penyandang DM maupun alatnya itu sendiri.
Penyandang DM dianjurkan untuk selalu membawa alatnya ke klinik saat konsultasi dan penyandang DM harus didorong untuk mampu melakukan modifikasi pengobatan sesuai hasil pemanyauan yang dilakukan.  (Soewondo(2009), Soegondo, hal 157)

g.         Pemantauan Glukosa Berkesinambungan (PGB)
Pemantauan glukosa berkesinambungan (PGB) dapat menjadi alat tambahan terhadap PKGS pada pasien DM tipe 1, terutama mereka tanpa kesadaran resiko hipoglikemia. Sistem PGB cukup bermanfaat untuk mendeteksi hipohlikemia pada penyandang DM 1 dan 2. Namun, pemeriksaan ini tidak lebih baik daripada pengukuran glukosa kapiler yang standar untuk memperbaiki kendali glikemik dalam jangka panjang. (Soewondo(2009), Soegondo, hal 160)
HASIL YANG DIINGINKAN TERAPI GIZI MEDIS (TGM) UNTUK PASIEN DM TIPE 2
a.       Kontrol glikemik
Terkendali
Baik
Sedang
Puasa (mg/dl)
2 jam PP (mg/dl)
AIC (%)
< 110
80 – 144
< 6,5
110 – 125
145 – 179
6,5 – 8

1)      Sesudah 4-6 minggu kunjungan I :
Kecenderungan turun (-10%) atau sudah sampai sasaran
Bila tidak tercapai anjurkan perubahan terapi gizi atau medis
2)      Hasil yang diharapkan TGM yang berkesinambungan :
Mempertahankan pencapaian sasaran

b.      Lipid

Terkendali
Baik
Sedang
Kolesterol total (mg/dl)
LDL (mg/dl)
HDL (mg/dl)

Trigliserida (mg/dl)
<200
<100
Pria : >40
Wanita : >50
<150
200-239
100-129


150-199

Sesudah 4-6 minggu dari kunjungan I :
1)        Bila kolesterol meningkat, turunkan 6-12 %
2)        Bila kadar kolesterol tidak mencapai sasaran sesudah 4-6 bulan TGM, beritahu dokter

c.       Tekanan Darah
1) Tujuan : 130/80
2) Bila tidak ada respon terhadap perubahan gaya hidup, beritahu dokter
d.      Berat badan
1)        Tujuan : pertahankan berat badan yang memadai

Baik
Sedang
IMT 18,5-
<23
23-25

2)        Penurunan berat badaan jangka pendek 0,2 – 0,5 kg/minggu
3)        Penurunan berat badaan jangka lama 2,5-9 kg
4)        Hasil setelah 4-6 minggu dari kunjungan I : penurunan berat badan 1,5-3 kg
5)        Hasil setelah TGM yang berkesinambungan : penurunan berat badan 4,5 – 9 kg
(Sukardji(2009), dalam Soegondo, hal 66)





DAFTAR PUSTAKA


Almatsier, Sunita. 2006.Penuntun Diet . Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Baradero, Mary. 2009. Klien Gangguan Endokrin. Jakarta: EGC.
Soegondo,dkk. 2009. Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Maryunani, Anik. 2008. Buku Saku Diabetes Pada Kehamilan. Jakarta: Trans Info Media.
Nurachmah, Elly. 2001. Nutrisi Dalam Keperawatan. Jakarta: Sagung Seto.
RA, Nabyl. 2009. Cara Mudah Mencegah dan Mengobati Diabetes Melitus. Yogyakarta: Aulia Publishing.
Saraswati, Sylvia. 2009. Diet Sehat. Jogjakarta: A+Plus Books.
Suyono, Slamet. 2002. Pedoman Diet Diabetes Melitus. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3720/1/fkm-hiswani4.pdf